Wednesday, November 28, 2018

Juwono di Mata Teman SMA:

KUE ULTAH  SUSUN LIMA DI  PESTA SWEET SEVENTEEN
Dr. Conny Dharmasaputra
(Dokter di Klinik DNY Gedangan, Sidoarjo)


            Ketika SMA, dia teman satu kelas.  Saya kenal baik dan sangat akrab.  Dia juga akrab dengan keluarga saya. Terutama sama Mama. Saat itu, Juwono masih susah.  Kondisi ekonomi keluarganya  belum membaik.  Tapi dia pemuda yang percaya diri. 
  Juwono, yang biasa kami panggil Prof (maksudnya profesor), sering  ke  rumah.  Selain karena bersahabat dengan saya, dia juga jadi guru  private electone  Enie, adik perempuan saya.  Jadi, saya banyak tahu sosok masa lalu dia. Jujur nih,  waktu itu dia gak ada cakep-cakepnya he he he he. Badannya kurus kayak kurang gizi, Jangkung dan berkaca mata tebal.  Bajunya kucel terkesan lapuk dan jarang disetrika. Rambutnya acak-acakan,
            Melihat rambutnya yang  kurang rapi, saya tawari dia untuk merapikan. Dia mau bahkan senang sekali.  Padahal, hasil guntingan saya itu tidak sempurna. Tidak rapi heheheh.  Sejak itu, dia jadi langganan potong sama saya.  Semacam  simbiosis mutualisme.  Saling menguntungkan. Dia bisa potong rambut  gratis sementara saya bisa menyalurkan bakat alam bidang tata rambut.
            Kondisi ekonomi Prof   yang masih prihatin itu membuat Mami merasa kasihan. Kalau datang ke rumah, selalu ditawarin makan. Maklum, Mami saya punya hobi memasak. Dia itu, kalau makan,  wuih lahap sekali. Apalagi kalau Mami memasak sop merah.
            Menjelang usia  sweet seventeen,  Prof  bilang pada saya tentang keinginan merayakan  ulang tahunnya.  “Selama ini aku gak pernah merayakan ulang tahun. Pas usia 17 tahun ini,  pengen sekali  dirayain.”
            Waduh! Saya sih sempat heran sekaligus sedih  ketika dia bilang begitu. Hidup dalam keadaan susah, masih punya keinginan merayakan ulang tahun. Terus dia bilang begini: “Apa boleh saya numpang merayakan  ulang tahun di rumahmu? Saya ingin mengundang beberapa teman-teman SMA”.
            “Tapi uangku cuma ada segini,” lanjut dia sambil memperlihatkan uangnya. Nominalnya  jauh dari cukup. Untuk perayaan ulang tahun sangat sederhana saja tidak cukup.  Keinginan Prof itu saya sampaikan ke Mami.  Ternyata Mami menyanggupi dan mau memasak menu untuk tamu  undangan.  Prof  juga request  sop merah kesukaannya. 
            “Gak apa-apa. Dirayakan saja di sini. Nanti kekurangan uangnya Mami yang tambahin,” kata Mami. Saya sampaikan ke Prof. Dia  senangnya tidak kepalang.  Tapi satu hal yang jadi masalah. Dana untuk beli kue tart tidak ada. Mami memberi jalan keluar.
            “Kita pinjam saja kue tart palsu dari tempat kursus memasak SWAN,” kata Mami. Kebetulan mami kenal baik sama pemilik tempat kursus tersebut. Jadilah, ulang tahun sweet seventeen  Prof dengan kue tart palsu alias dummy birthday cake yang sangat  besar. Susun lima. Terkesan begitu istimewa.   Pada hari perayaan itu, Mamanya Prof juga ikut hadir.
            Lagu Happy Birthday  dinyanyikan bersama. Kemudian prosesi tiup lilin dilakukan.  Habis itu, para undangan langsung dipersilahkan untuk mencicipi hidangan. Mestinya, ada acara potong kue lalu dibagikan. Tapi itu tidak dilakukan.
            Beberapa teman SMA yang diundang berbisik pada saya. Mereka  ingin mencicipi kue ulang tahun. “Kuenya kok gak dipotong dan dibagikan?”  Saya jawab dengan berbisik juga, “Kuenya  palsu”.  Teman-teman tertawa geli. Mereka baru sadah kalau kue tart istimewa itu ternyata palsu.
            Setelah dia sukses, biar ingat masa susahnya dulu,  saya sering  bilang ke dia:  “Dulu kamu waktu Ultah gak bisa beli kue tart. Sekarang di Tristar kue tart model apa saja ada.”

Naksir Adik Saya
            Kedekatan saya dengan Prof sering dianggap pacaran sama teman-teman. Padahal, dia tidak pernah bilang naksir sama saya. Dia malah segan karena saya selalu bersikap tegas dan rada galak sama dia.
            Kadang kalau pulang sekolah, saya tidak dijemput orangtua. Kemudian saya minta Prof mengantar saya pulang dengan sepeda motor bututnya. Prof kelihatan senang bisa gonceng cewek. Sebab, seingat saya, dia tidak punya pacar. Tidak pernah gonceng cewek. Makanya dia terlihat bangga dan ketika saya naik di belakang motornya, dia  bilang begini di depan teman-teman:
“Ayo pegangan pinggangku.” Langsung saya  jendul  kepalanya sambil bilang, “Kamu jangan suka ngerusak pasaranku ya.” Saya perlakukan kasar  seperti itu, dia tidak marah, juga tidak tersinggung. Saya harus akui bahwa Prof itu tahan banting, tahan isin (malu) dan kelewat percaya diri.
            Prof diam-diam naksir adik saya. Adik saya yang bernama Enie lebih putih, lebih kalem dan lebih gaya dibanding saya. Tapi adik saya itu sudah punya pacar.  Ketika Prof nembak dengan bilang cinta,  bilang senang, bilang senang, adik saya diam saja. Tidak menjawab karena merasa tidak enak kalau ditolak.
            Nekatnya kebangetan. Masak dia bilang begini: “Aku tunggu Enie sampai putus sama pacarnya.”  Bukan aja bilang ke adik saya. Prof juga berani bilang sama Mami kalau dia akan menunggu sampai putus sama pacarnya. Ternyata adik saya tidak pernah putus sama pacarnya dan sampai sekarang sudah jadi suaminya.  Prof gigit jari deh he he he he.
            Setelah sama-sama lulus SMA, kami pisah. Saya kuliah di Jakarta sementara Prof kuliah di Surabaya.  Tidak pernah saling kontak.  Kami  ketemu lagi ketika dia sudah sukses. Prof sudah cakepan ha ha ha ha.
            Ketemunya di Plasa Marina. Waktu itu, dia sama istri dan anaknya, sementara saya sama orangtua.  Saya kaget lihat dia yang berubah. Badannya berisi dan tegap. Jauh beda dengan ktika SMA, badannya kurus.
Saya senang melihat Prof  sukses. Perjuangannya tentu saja penuh tantangan.  Sebagai teman, saya ingin sampaikan pesan:  “Tetaplah takut dan  andalkan Tuhan dalam kehidupanmu. Jangan lupa menabur,  karena apa yang kamu punya saat ini, semua dari DIA.”
***

MURID BERSEPEDA "ONTEL"
Oleh: dr. Liantiana. (Tjong Lie-Lie).
**Dokter Umum di Puskesmas Keputih di perbantukan di Liponsos Keputih

Pelajar bertubuh kurus, jangkung dan berkaca mata minus juga silinder itu, selalu  kelihatan tergesa-gesa  memasuki halaman SMPkr IMKA I - II di Jalan Kombes Pol. M. Duryat 9 Surabaya. Datang dengan mengayuh sepeda ontel,  tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Langsung masuk lalu menghilang di balik pintu gerbang sekolah.
Saya tidak tahu siapa dia. Juga tidak terlintas  perasaan ingin tahu namanya atau murid kelas berapa. Tapi saya bisa pastikan bahwa  dia itu salah satu murid di SMPkr IMKA II yang  masuk siang. Sebab, saya selalu melihat dia datang ketika  saya pulang sekolah.
Kebiasaan saya setiap pulang sekolah, selalu  berdiri di depan pintu gerbang menunggu Papa datang menjemput. Saat itu, para murid yang masuk siang mulai berdatangan. Semua tidak ada yang menarik perhatian. Biasa-biasa saja. Tapi beda  dengan  sosok kurus bertubuh jangkung itu. Ada yang aneh, misterius sekaligus saya anggap unik.
Seingat saya, ketika masih duduk di kelas 7 dan kelas 8,  tidak pernah melihatnya. Dia sering terlihat ketika saya naik di kelas 9,  sampai lulus. Kemudian saya melanjutkan ke SMAK St. Louis I Surabaya. Ternyata ... , dia juga masuk ke sekolah yang sama dan sekelas di IPA 11 ... dan saat itulah saya baru tahu bahwa dia bernama Juwono Saroso.
Sewaktu di SMAK St. Louis I , dia tidak lagi mengayuh sepeda. Sudah meningkat naik  motor bebek Suzuki Family keluaran pertama tahun 1973. Bisa dibilang motor itu adalah nenek moyangnya motor bebek buatan Jepang. Mungkin karena knalpotnya tidak beres, suara motornya  bikin bising saja. Penampilan dia masih sama nyentriknya dengan sosok ketika dia naik sepeda ontel. Tetap kurus, jangkung dan berkaca mata minus dan silinder model kuno dengan bingkai dari plastik tebal berwarna hitam.  Tapi, kesan nyentrik perlahan berubah jadi pribadi yang menarik.
Apanya  yang menarik? Ternyata dia sangat supel. Mudah menyesuaikan diri dan berteman dengan semua murid di kelas. Ternyata ... , dia juga sangat cerdas dalam semua mata pelajaran. Tempat bertanya sekaligus nyontek saat ulangan. Dia tidak pelit, dia tahu kita nyontek tetapi diam saja. Tidak seperti teman lain yang buru-buru menutup kertas ulangan kalau kita intip. Kebetulan tulisan dia bagus sehingga dari jarak jauh aja kita bisa membaca tulisannya dengan jelas jawaban di kertas ulangannya. Satu lagi yang menarik, saya dan dia sama-sama penggemar duduk di bangku paling depan. Biasanya murid laki-laki sukanya duduk di belakang atau mojok. Dia tidak.
Karena pandai dalam semua mata pelajaran dan juga bisa main organ, terutama sewaktu ada jadwal Misa di Gereja Katedral "Hati Kudus Yesus" yang terletak di sebelahnya sekolah SMAK St. Louis I, dia selalu yang mengiringinya dengan memainkan organ yang ada di gereja tersebut. Sehingga akhirnya ... dia popular dengan panggilan "Profesor".
Nama aslinya sangat jarang disebut. Teman-teman selalu memanggil dia "Prof". Bahkan beberapa guru juga ikut menyapa dia dengan panggilan "Prof". Panggilan tersebut melekat sampai sekarang.
Juwono Saroso ini juga seorang yang sangat gigih dalam perjuangan hidupnya dia sewaktu di SMA aja sudah punya job dengan menerima les organ  atau electone. Bahkan dia pernah bercerita bahwa sewaktu masih SD kelas 3, dia juga sudah bekerja sambilan dengan berjualan kue keliling kota.
Di balik hal-hal yang menarik dan menyenangkan tadi, Profesor sesekali juga suka usil. Saya pernah dikerjain sampai menangis. Baju olah raga saya disembunyikan. Saya tanya teman-teman apakah melihat tas yang berisi baju olah raga. Semua teman sekelas mengaku tidak tahu. Saya cari ke mana-mana, tidak ketemu. Saya menangis karena jam mata pelajaran olah raga sudah akan dimulai. Ternyata disembunyikan oleh Profesor. Keusilannya sangat kreatif.
Pada tahun 1985 kami lulus dari SMAK St. Louis I, saya dan profesor kuliah di kampus yang berbeda. Saya  diterima di  Fakultas Kedokteran Umum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya di Jl. Dukuh Kupang. Sementara Profesor melanjutkan di Fakultas Kimia (MIPA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS).  Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu. Kami kehilangan kontak. Karena pada waktu itu alat komunikasi (Hand Phone) belum ada.
Kami baru bertemu kembali pada acara reuni di tahun 2011. Ternyata ... , si kurus bertubuh jangkung  yang unik itu, sudah berubah  jadi  pria gagah dengan postur tubuh berisi. Pria bersepeda ontel itu ternyata sudah sangat diberkati oleh Tuhan, dia adalah pemilik sekolah TRISTAR Culinary Institute yang sekarang berkembang menjadi Akademi Pariwisata Majapahit dan Politeknik Surabaya. Di Surabaya, ada empat kampus yaitu di Jalan Raya Jemursari,  Jalan Kaliwaron dan kampus baru yang sedang dibangun di  Jalan Manyar Kertoarjo dan Tristar Samator. Kemudian ada juga di Tangerang, Bogor, Semarang, Pontianak dan beberapa kota lainnya di Indonesia.
***

URUN SARAN BUAT SEORANG TEMAN
Oleh : Yanuk  Lianto

“Prof,” atau Profesor adalah   panggilan akrab pada teman saya Juwono Sarono. Bukan hanya saya, tetapi juga teman-teman lain yang  pernah sekelas di SMAK St. Louis I Surabaya. Nama atau julukan tersebut tercipta karena dia memang dikenal pandai di sekolah. Siswa lainnya selalu bertanya pada dia jika mengalami kesulitan dalam pelajaran.
Hebatnya, Prof tidak pernah menolak untuk berbagi ilmu. Perhatian dan setia kawan. Dia telaten melayani teman yang minta diajarkan. Talenta dia sebagai pengajar sudah terlihat sejak di bangku sekolah. Karena sifat baiknya itulah, dia punya banyak teman dan menjadi populer di sekolah.
Kebiasaan berbagi ilmu kepada orang lain tersebut, menjadi modal utama yang mengantar dia dalam meraih  kesuksesan. Dia ulet, tekun dan fokus saat mengerjakan sesuatu. Hal itu juga ditunjang oleh istri yang mendampinginya. Kerjasama suami istri yang baik bisa mendulang kemajuan yang baik pula.
Kursus Tristar yang kini menjelma menjadi sebuah  perguruan tinggi yang  tersebar dan terus berkembang di beberapa kota di Indonesia, adalah bukti nyata kesuksesan dia. Bahkan, istri saya juga pernah ikut kursus kuliner di sana. Waktu itu, saya tidak tahu bahwa Tristar itu miliknya Prof. Padahal, saya selalu mengantar dan menjemput istri waktu itu.
Baru ketahuan ketika ada acara reuni . Saat itu saya mengajak istri dan bertemulah kami. Ternyata, sosok yang ada di balik nama Tristar itu adalah Profesor. Dia adalah Yuwono, teman semasa SMA dulu.
Ketika saya diajak Prof untuk melihat langsung situasi kampus Tristar Culinary Institute di Jalan Jemursari Surabaya, saya kagum melihat fasilitas dan peralatan yang ada di sana. Sangat modern dan lengkap. Benar-benar dipersiapkan dengan baik. Publikasi di media juga gencar, termasuk di sosial media. Ini sangat menunjang kemajuan usahanya. Setiap kegiatan selalu dipublikasi. Ini langkah yang cerdik.
Sebagai teman, saya urun saran. Teruslah berinovasi sebab suatu saat, pasti akan muncul tempat studi kuliner maupun pariwisata yang baru yang bisa menjadi pesaing berat. Era sekarang banyak terobosan baru yang lebih berani dan harus dihadapi dengan inovasi tiada henti.

Lomba Rias Wajah
Kembali ke nostalgia masa SMA. Kedekatan saya dengan Prof di sekolah karena kami sama-sama suka musik. Dia pandai  main organ, saya juga bisa main alat musik yang sama. Di sekolah, kami sering ikut kegiatan yang ada kaitannya dengan seni musik.
Ada satu momen yang tidak bisa saya lupakan sampai saat ini. Waktu itu, murid satu kelas mengadakan acara perpisahan kelulusan di kawasan wisata Tretes Pasuruan, Jawa Timur.  Biar acaranya seru,  diisi dengan acara unik  lomba “wanita jadi-jadian”. Siswa pria dirias dan memakai pakaian wanita.  Waktu itu yang ikut dirias selain saya dan Prof, adalah Enky, Sigit, Ajiang, Eddy Cekak dan lain-lain.
Saat itu, saya yakin bakal keluar sebagai pemenang. Make up saya cukup bagus.  Sudah mirip wanita sungguhan. Tapi apa yang terjadi? Ketika penjurian, saya kalah.  Dia  keluar sebagai pemenangnya. Prof memang sulit disaingi. Bukan saja dalam mata  pelajaran, tapi bersaing sebagai wanita jadi-jadian saja dia tidak terkalahkan.
***

PROFESOR ITU  DARI KELUARGA SEDERHANA
Oleh: Yuliana Gunawan

Kebersamaan dengan seseorang pasti ada sisi nostalgia yang menarik untuk dikenang. Apa lagi jika teman kita itu sekarang jadi orang sukses. Satu di antara teman saya yang sudah meraih sukses itu adalah Juwono Saroso. Saya dan teman-teman sekelas di SMAK Saint Louis I Surabaya menyapa dia dengan nama Profesor.
Panggilan Profesor atau Prof itu bukan karena titel yang didapat dari perguruan tinggi.  Tetapi karena di kelas dia dikenal sebagai siswa yang serba bisa untuk semua mata pelajaran. Saya tidak tahu siapa orang pertama yang  nyeletuk memanggil dia Profesor. Panggilan itu tiba-tiba saja menyebar dan semua teman memanggil dia Prof.
Sebelum penjurusan (IPA dan IPS), saya dan Prof duduk di kelas yang sama. Kemudian kita beda kelas di kelas 2 walau sama-sama mengambil jurusan IPA.  Ketika naik kelas 3 kita satu kelas lagi. Saat itulah saya lebih intens mengenal dia.
Dari pakaian seragam, merek  sepatu dan lain-lain yang dia kenakan sehari-hari di sekolah, kelihatan bahwa dia berasal dari kekuarga yang hidup sangat sederhana. Bukan dari keluarga berada. Tapi dia supel, pandai bergaul dan bisa menempatkan diri sehingga semua orang berteman dengan dia.
Saya melihat Prof memang pandai sejak dari sononya. Dia selalu ranking satu di kelas. Padahal, buku catatan pelajaran saya lebih rapi dan lengkap  dibandingkan bukunya dia. Dia juga bukan siswa kutu buku  walau dia berkaca mata. Di kelas dia kelihatan santai saja. Bukan tipe siswa yang serius. Mungkin karena dia gak pernah bolos dan fokus saat guru menerangkan sehingga apa yang diajarkan bisa langsung nyantol di kepala.
Ulet dan kerja keras salah satu kunci yang membuat dia tumbuh menjadi orang sukses. Latar belakang keluarganya yang tidak mampu memacu dirinya untuk maju. Terbukti ketika dia kuliah di ITS, mengambil dua mata kuliah sekaligus.
Momen lucu yang menggelikan, ketika acara perpisahan kelulusan. Waktu itu, teman-teman sekelas menyewa villa di Tretes. Salah satu acara seru-seruan waktu itu, siswa pria  termasuk Prof didandani ala wanita.  Pakai daster, dibedaki dan dipolesi lipstik.  Sayangnya, saya berusaha mencari dokumen foto itu tidak ketemu.
Prof….,  walau sudah menjadi orang sukses dan berhasil di bidang kuliner,  tetaplah menjadi orang yang rendah hati seperti Prof yang saya kenal sejak di bangku SMA dulu.
***

“MBETHIK E”  SETENGAH MATI
Oleh: Budi Setya

Lincah  dan jenaka, begitulah  sosok yang menarik dari teman saya Juwono. Ada saja tingkahnya yang membuat kita sering merindukan kehadirannya. Meminjam  tagline iklan rokok: “Nggak ada Loe, nggak rame”. Begitulah kira-kira.
Dengan nada canda, wali kelas 3 IPA di   SMK St. Louis I Surabaya, pernah menyebut dia sebagai siswa “mbethik e setengah mati”.  Tentu saja istilah “mbethik” itu bukan berkonotasi nakal yang mengarah pada perilaku negatif. Kosa kata mbethik tersebut mungkin berasal dari kata bahasa jawa “mbeling setitik” (nakal sedikit atau sedikit nakal). Nakal yang usil tapi kreatif. Seperti acara-acara usil Jebakan Betmen dan lain-lain  di televisi yang sangat menghibur itu.
Juwono bukan saja menarik perhatian teman-teman, tetapi para  guru juga menaruh perhatian pada dia.  Sebab, dia salah satu murid cerdas di kelas.  Kebetulan dia  juga diangkat jadi ketua kelas. Karena itu, dia paling aktif dalam berbagai kegiatan. Murid yang “sersan”. Serius tapi santai. Dalam hal pelajaran, dia serius, tetapi sebagai murid dia suka bercanda dengan teman-teman.  
Jika dia sekarang sukses membangun dan mengembangkan Tristar Culinary Institute, itu karena dia ditempa dalam keluarga untuk jadi seorang pejuang. Dia itu seorang fighter yang tangguh. Tidak gampang menyerah dan tentu saja kreatif. Sejak kecil dia sudah mengambil tanggungjawab membantu ibunya jualan kue keliling. Dia juga menjadi guru les electone, guru les privat beberapa mata pelajaran.
Kini dia sudah sukses. Predikatnya sebagai bos. Juwono yang dulu tubuhnya  kerempeng, kini makin berisi. Saran saya sih, jaga perkembangan tubuh. Jangan sampai obesitas. Tubuh gendut itu kurang sehat. Bisa mendatangkan banyak penyakit.
Sukses buat sahabatku Juwono
***

Pertama-tama, terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitu banyak nikmat yang Engkau berikan. Tidak terhingga anugerah yang Engkau limpahkan. Begitu indah rencanaMu melebihi harapan yang selalu kuucapkan dalam setiap doa-doaku.
Saya sangat bersyukur dan mengucapkan:“Tuhan Yesus, terimakasih untuk segalanya” (Read More)

Sebuah Epilog:

Sebuah Testimoni Semua yang saya miliki hari ini adalah anugerah dari Yang Kuasa yang saya dapatkan dengan   perjuangan yang c...