Tuesday, November 27, 2018

JUARA KELAS BERGELAR “PROFESOR”



Puji Tuhan, saya dikaruniai otak yang cerdas. Gampang menyerap pelajaran dan punya spirit belajar yang baik.  Hal ini juga tidak lepas dari perhatian Mama yang begitu istimewa pada anak-anaknya. Sangat memperhatikan masalah pendidikan.
Sejak di Tulungagung. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, Mama tidak memanjakan anaknya dengan materi walau saat itu keadaan ekonomi keluarga masih jaya. Mama sangat intens memperhatikan perkembangan kecerdasan anaknya. Mama mendaftarkan saya les pelajaran.  Saya masih ingat, nama gurunya, Cik Swan.   
Dia guru les yang lembut dan mengajar dengan perhatian dan  kasih sayang. Saya dan teman-teman makin pintar dan selalu jadi juara kelas. Teman lain yang juga juara kelas waktu itu,  ada  Fang Fang, anaknya dokter Tjo Jan dan  Go Cie Cien pintar dan berwajah cantik.  
 Kalau berangkat les, naik becak bersama teman-teman. Peserta lesnya banyak sehingga saya merasa kerasan karena banyak teman. Selesai les, kadang kami tidak langsung pulang tapi bermain dulu di halaman rumah Cik Swan yang luas.
Ketika di Surabaya, saat ekonomi morat-marit, Mama tidak mampu membayar guru les. Sekolah saja terpaksa masuk ke SD Chana yang kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Muridnya sedikit, gurunya terbatas dan dua kelas dijadikan satu.
Ketika duduk di bangku SMP, barulah Mama bisa memperhatikan soal pendidikan. Setidaknya, saya bisa les bahasa Inggris. Bisa beli buku pelajaran yang saya butuhkan.  Hanya itu yang mampu Mama lakukan. Saya tidak tega untuk meminta lebih karena saya paham bagaimana sulitnya memulai hidup di Surabaya.
Keadaan yang serba sulit itu, secara tidak langsung telah menempa mental dan kepribadian  saya menjadi anak yang tangguh. Kondisi yang serba kekurangan ternyata membentuk jiwa saya menjadi anak yang survive menghadapi  tantangan yang menghadang.
Ketika anak-anak seusia saya bisa bebas bermain dan bermanja-manjaan pada orangtua, saya bergelut dengan kesibukan membantu orangtua. Harus belanja barang  untuk dagangan di toko. Berangkat ke pasar membeli haban-bahan untuk membuatan kue. Mangantar kue  ke warung-warung.
Pekerjaan itu tidak saya anggap sebagai beban tetapi saya lakukan sebagai hobi. Keluyuran ke pasar atau kulakan ke toko grosir yang jaraknya jauh dari rumah, saya lakukan seolah sedang bermain. Bekerja sambil bermain.
Saya merasakan kesenangan tersendiri ketika harus kulakan barang sampai ke Pasar Atom. Kadang ke Jalan Gembong, Pasar Blauran dan yang paling dekat dengan rumah di Pasar Keputran. 

Terima Beasiswa
Ketika sekolah di SMP Imka, saya selalu juara kelas dan dapat beasiswa. Ketika lulus SMP, saya juga  dapat beasiswa jika melanjutkan   ke SMA Imka. Senangnya bukan main. Berarti, beban orangtua makin ringan karena sekolah tidak perlu bayar alias gratis. Nama saya secara otomatis terdaftar di SMA Imka.
Teman-teman SMP yang lain, berbondong-bondong  mendaftar  di SMA St Louis 1 Surabaya yang dikenal sebagai salah satu  sekolah favorit di Surabaya. Bagi teman-teman, sekolah di sana adalah kebanggaan. Saya tidak terpengaruh. Saya tidak ikut-ikutan daftar. Mereka mengajak.  Saya tolak dan saya bilang bahwa saya akan meneruskan di SMA Imka saja. Mereka terus memaksa dan saya tetap bilang “tidak!”.
Tapi apa yang terjadi? Ternyata nama saya sudah didaftarkan oleh teman-teman tanpa sepengetahuan saya. Soal itu, baru saya tahu ketika pada hari diselenggarakan test masuk calon siswa baru di  SMA St. Louis Surabaya. Mereka datang ke rumah  dan mengajak saya untuk mengikuti test.
Semula, saya pikir  mereka itu guyon. Saya tidak menanggapi serius. Tapi ketika mereka memaksa untuk ikut, saya bilang:  “Saya kan tidak daftar, kenapa harus ikut test?”
Salah seorang teman meyakinkan saya dengan memperlihatkan kartu peserta test atas nama saya. Tidak ada alasan untuk menolak. Tidak ada salahnya juga saya ikut test untuk menghormati jerih payah teman-teman. Saya tahu, mereka sangat berharap  bisa berkumpul dan  belajar di sekolah yang sama.
Hari itu, saya berangkat tanpa persiapan. Tidak pernah belajar untuk menghadapi test di sekolah yang sangat prestisius itu. Sekolah favorit dan dikenal  selektif menerima siswa baru. Walau tanpa persiapan, saya berangkat tanpa beban. Lulus, syukur. Gak lulus ya gak apa-apa.
Menurut saya, soal-soal test lumayan sulit. Yang bisa saya kerjakan dengan baik adalah bahasa Inggris. Itu lantaran saya  lama ikut les bahasa Inggris di tempat Mem di Petemon Kuburan. . Saya lulus test dan sekolah di SMA St. Louis 1. Sementara beasiswa si SMA Imka saya abaikan.
SMA St Louis 1,  salah satu sekolah swasta Katolik terbaik yang berprestasi dan populer di kota Surabaya. Tentu saja saya bangga bisa menjadi salah satu siswanya.  Gedung sekolahnya terletak di Jalan Polisi Intimewa (dulu Jalan Dr. Soetomo), tercatat sebagai salah satu cagar budaya. Persis bersebelahan dengan Gereja Katedral Hati Kudus Yesus dan Soverdi.
Banyak kenangan yang melekat dalam ingatan saya sampai saat ini. Salah satunya, di sekolah ini saya mendapat gelar “profesor”. Entah siapa yang pertama memberi gelar dan memanggil saya dengan sebutan profesor. Karena itu, selama sekolah di SMA Katolik St. Louis 1, nama Juwono Saroso jarang terdengar.  Mereka, bahkan sebagian guru juga ikut memanggil saya Profesor. Sampai sekarang, teman seangkatan masih memanggil dengan nama Prof.
Selentingan yang saya dengar, saya dipanggil profesor karena saya pintar. Ah, saya tidak mau besar kepala atau jadi bangga dikatakan pintar lalu dijuluki profesor.. Toh masih banyak siswa yang lebih pintar dari saya. Kemudian saya  menduga,  julukan itu bermuara dari dua hal. Pertama, saya  salah seorang siswa yang lumayan pintar. Kedua karena saya berkacamata tebal.  
Pantaslah kalau dipanggil Prof. Ini adalah fakta yang kini jadi nostalgia. Karena itu,  apapun alasannya, atas panggilan dan gelar tersebut, saya harus bilang “Kamsia…. Xie xie.”
***


Pertama-tama, terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitu banyak nikmat yang Engkau berikan. Tidak terhingga anugerah yang Engkau limpahkan. Begitu indah rencanaMu melebihi harapan yang selalu kuucapkan dalam setiap doa-doaku.
Saya sangat bersyukur dan mengucapkan:“Tuhan Yesus, terimakasih untuk segalanya” (Read More)

Sebuah Epilog:

Sebuah Testimoni Semua yang saya miliki hari ini adalah anugerah dari Yang Kuasa yang saya dapatkan dengan   perjuangan yang c...